SURABAYA, 28 APRIL 2026 - Pemerintah Provinsi Jawa Timur mencari solusi untuk mengendalikan banjir di kawasan Bengawan Jero, Lamongan yang kerap dilanda banjir dan baru mengering selama empat bulan. Solusi yang kini dilakukan mengalirkan genangan air ke waduk Rawa Jabung.
“Jika dialirkan ke arah Gresik debitnya terlalu kecil;, sementara genangan di kawasan Bengawan Jero cukup besar debitnya,” kata Sekretaris Dinas PU SDA, Fauzy Nasruddin, di Surabaya, Selasa (28/4).
Menurut Fauzy, Bengawan Jero bukan sekadar sungai seperti yang dipahami masyarakat, melainkan sebuah kawasan cekungan atau depresi yang secara alami menampung air. Kondisi geografis ini menyebabkan air yang masuk ke wilayah tersebut tidak dapat mengalir secara gravitasi sepenuhnya, sehingga membutuhkan intervensi teknologi seperti pompa untuk mengurangi genangan.
“Kalau di situ ada air, memang harus dikeluarkan dengan pompa. Karena ini kawasan seperti mangkuk, jadi air akan terkumpul di sana,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah skema pengendalian banjir yang terus berprogres. Salah satunya melalui pengembangan sistem sungai terpadu yang mengacu pada kajian lama, termasuk hasil studi dari Jepang.
Sistem tersebut mencakup normalisasi dan pelebaran sejumlah sungai yang tergabung dalam pola BMCM (Blawi, Malang, Corong, Mireng) maupun DKWM (Dinoyo, Keputran, Wangen, Manyar).
Selain itu, pengoperasian pompa air di titik-titik strategis seperti pintu air Blawi dan Tipuro juga menjadi bagian dari upaya jangka pendek saat musim hujan tiba. Namun demikian, langkah paling krusial saat ini adalah percepatan penyelesaian proyek Jabung Ring Dyke.
Proyek tanggul raksasa ini dirancang memiliki kapasitas tampung hingga 30 juta meter kubik air, dengan kemampuan mengalirkan debit sekitar 300 meter kubik per detik dari Bendung Babat langsung menuju laut. Dengan skema tersebut, diharapkan beban aliran di hilir Bengawan Solo dapat berkurang signifikan.
“Kalau air bisa langsung kita buang ke laut, maka muka air di sungai utama akan turun. Dampaknya, pintu air seperti di Kuro bisa lebih sering dibuka secara gravitasi, sehingga air hujan bisa lebih cepat keluar,” jelasnya.
Saat ini, proyek Jabung Ring Dyke masih dalam tahap penyelesaian akhir. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Solo telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp58 miliar pada tahun ini untuk menuntaskan pekerjaan fisik yang tersisa, yakni pembangunan sekitar 2 kilometer tanggul baru serta peninggian 1,3 kilometer tanggul eksisting.
Meski demikian, tantangan utama bukan lagi pada aspek teknis, melainkan persoalan sosial. Di area genangan yang direncanakan menjadi bagian dari sistem pengendali banjir, masih terdapat aktivitas masyarakat, khususnya di sektor pertanian. Hal ini memerlukan pendekatan persuasif melalui pemberian uang kerohiman sebagai bentuk kompensasi.
“Secara teknis sebenarnya sudah siap. Tapi di lapangan masih ada masyarakat yang beraktivitas di area tersebut. Ini yang harus kita selesaikan secara sosial,” ungkap Fauzy.***SO





