SURABAYA, 2 APRIL 2026 – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata tidak hanya bicara soal pemenuhan gizi masyarakat. Di tangan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur, program nasional ini dibidik menjadi peluang baru dalam pengelolaan limbah berbasis lingkungan yang bernilai ekonomis tinggi.
Ketua HKTI Jawa Timur, Arum Sabil, menegaskan kesiapan pihaknya untuk mengambil peran strategis dalam mengelola limbah yang dihasilkan dari dapur-dapur MBG di seluruh wilayah Jawa Timur. Hal ini disampaikan usai dirinya menghadiri silaturahmi bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, di Gedung Negara Grahadi, Rabu (1/4).
Limbah Sedikit, Akumulasi Selangit
Arum Sabil melihat adanya potensi "Simbiosis Mutualisme" antara petani dan pengelola dapur MBG. Di satu sisi, petani berperan sebagai penyokong bahan baku utama seperti beras, telur, daging, dan sayuran. Di sisi lain, aktivitas produksi makanan yang masif pasti menyisakan limbah dapur yang jika dibiarkan akan mencemari lingkungan.
"Mungkin terlihat sedikit di satu titik dapur, tapi kalau dikumpulkan secara menyeluruh, jumlahnya sangat besar. Agar tidak merusak lingkungan, kami meminta teman-teman HKTI untuk bekerja sama mengambil dan mengelola limbah tersebut," tegas Arum.
Dari Sampah Menjadi Biogas dan Pupuk
Bagi HKTI, limbah dapur MBG bukanlah sampah biasa, melainkan bahan baku energi terbarukan. Arum menjelaskan bahwa sisa-sisa organik tersebut memiliki potensi besar untuk diolah menjadi biogas dan pupuk organik.
"Limbahnya bisa jadi biogas untuk energi alternatif masyarakat, bisa juga menjadi pupuk organik bagi lahan pertanian. Ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ekosistem pertanian. Dampaknya ganda: lingkungan terjaga, ekonomi pun berputar," jelas tokoh pertanian tersebut.
Model Keberlanjutan yang Inovatif
Langkah ini dinilai sebagai terobosan integrasi antara ketahanan pangan dan kelestarian alam. HKTI Jawa Timur berharap peran petani tidak berhenti sebagai penyedia bahan baku saja, tetapi juga menjadi aktor utama dalam pengolahan hasil samping (limbah) yang memiliki nilai tambah.
Dengan sinergi ini, program MBG diharapkan menjadi role model nasional dalam pengelolaan limbah yang inovatif. HKTI optimistis bahwa kolaborasi ini akan memperkuat kesejahteraan petani sekaligus memastikan setiap rupiah yang digulirkan dalam program pemerintah memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat dan bumi.***SO





