MALANG- Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) jangan di ajang perpeloncoan atau senioritas antara murid baru dan murid lama. Jadikan MPLS budaya baru sekolah sebagai tempat yang ramah.
Penegasan itu disampaikan Kemendikdasmen Abdul Mu’ti pada pengarahan dihadapan siswa peserta MPLS pertanda dimulainya tahun ajaran baru 2006-2027 di SMKN 2 Malang, Senin (13/7).
“Saya mengajak membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman yang dimulai dari MPLS. Kita berusaha untuk bagaimana menciptakan sekolah sebagai lingkungan dimana kita saling menghormati Saling mencintai antara satu dengan yang lainnya,” kata Abdul Mu’ti.
Abdul Mu’ti menegaskan, MPLS bukanlah kegiatan seremonial yang dicetuskan oleh tradisi perpeloncoan atau ajang unjuk senioritas, di mana kakak kelas melakukan tindakan-tindakan semena-mena yang sama sekali tidak mendidik.
Pemerintah memiliki berkomitmen penuh untuk mengubah dan menghapus tradisi perpeloncoan yang selama ini kerap muncul menjadi tradisi yang menyenangkan dan ramah untuk siswa.
“Kami ingin menanamkan budaya yang luhur, memuliakan guru-guru kita, memuliakan orang tua kita, dan memuliakan ilmu pengetahuan,” katanya.
Dia menilai bahwa siswa yang kini masuk sekolah individu yang mempunyai potensinya masing-masing, apapun keadaan fisiknya, mereka semua berhak mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu.
Oleh karena itu, melalui pelaksanaan MPLS ini, kami mengajak siswa dari seluruh Indonesia untuk menjadikan momentum MPLS sebagai langkah awal untuk membentuk karakter yang mulia, menggali potensi diri, dan menyongsong masa depan yang gemilang.
Momentum MPLS sebagai langkah awal Untuk kalian semua menatap masa depan yang mulia dalam kehidupan siswa nanti.***





