SURABAYA – Suasana Kampoeng Peneleh, Surabaya, tampak lebih cerah dan hidup pada Sabtu (4/7/2026) pagi. Ratusan warga dan kader Muhammadiyah menyemut di kawasan bersejarah tersebut. Mereka hadir untuk menyemarakkan Fun Walk for Philanthropy, sebuah gelaran santai yang menjadi puncak peringatan Milad ke-24 Lazismu.
Bukan sekadar jalan sehat mencari keringat, agenda ini sengaja dirancang sebagai momen refleksi. Lazismu ingin menghidupkan kembali semangat berbagi, memperkuat dakwah, sekaligus mengajak generasi hari ini menengok kembali tempat lahirnya gerakan Muhammadiyah di Kota Pahlawan.
Mengambil titik mula di Kantor Lazismu Kota Surabaya di Jalan Ahmad Jais Nomor 34, para peserta berjalan kaki menyusuri gang-gang bersejarah Kampoeng Peneleh dan berakhir di Lodji Besar. Tak hanya jalan sehat, panitia juga memanjakan peserta dengan rangkaian acara sosial: mulai dari pengajian, santunan anak yatim dan duafa, cek kesehatan gratis, hingga pesta kuliner 1.000 mangkok bakso gratis.
Menolak Lupa Akar Sejarah
Konsep milad tahun ini memang dibuat membumi dan menyatu dengan warga. Lazismu ingin menunjukkan bahwa urusan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) bukan melulu soal hitung-hitungan nominal yang dihimpun, melainkan tentang bagaimana dana tersebut dikembalikan menjadi manfaat nyata yang menyentuh masyarakat bawah.
Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Genteng, Achmad Naf'an, mengaku bangga wilayahnya dipilih menjadi pusat acara. Peneleh, bagi Muhammadiyah, bukan sekadar nama kampung, melainkan situs historis yang sangat sakral.
Sejak pagi, para peserta memang diajak mengikuti historical tour bersama pemandu lokal. Mereka melihat langsung bangunan dan jejak-jejak awal berdirinya Muhammadiyah yang berakar dari kawasan Genteng dan Peneleh."Alhamdulillah, cikal bakal Muhammadiyah itu nyatanya banyak lahir di Genteng, khususnya Peneleh. Langkah Lazismu Jatim memilih tempat ini sudah sangat tepat untuk mengajak kita semua menelusuri kembali asal-usul perjuangan organisasi," kata Naf'an.
Ia juga berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada PCM Genteng sebagai tuan rumah. Menurutnya, mengenalkan sejarah dengan cara yang menyenangkan seperti ini sangat krusial agar warisan pemikiran para tokoh pendahulu tidak lenyap ditelan zaman.
Lebih Tua dari Republik
Senada dengan Naf'an, Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Timur, Imam Hambali, menegaskan bahwa perayaan ke-24 ini sengaja dijauhkan dari kesan seremoni formal yang kaku.
Bagi Imam, melangkah di sela-sela rumah tua Peneleh adalah upaya menyelami kembali ruh perjuangan Muhammadiyah, yang bahkan sudah berkibar jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
"Kita mulai dengan tapak tilas. Perlu kita ingat bersama, Muhammadiyah ini lahir lebih dulu daripada republik ini. Nilai keilmuan dan militansi dakwah dari para pendahulu itulah yang harus kita serap lagi hari ini," tegas Imam.
Ia mengingatkan, esensi utama dari pergerakan Muhammadiyah adalah menghadirkan solusi dan kemaslahatan bagi umat, sebagai jalan menjemput keridaan Allah SWT.
Formula Bahagia: Jangan Tunggu Kaya untuk Berbagi
Dalam sesi tausiyahnya, Imam Hambali juga menyelipkan pesan sejuk mengenai konsistensi dalam berinfak. Merujuk pada Al-Qur'an, ia mengingatkan bahwa ciri orang yang dicintai penciptanya adalah mereka yang tetap tangan di atas, baik dalam kondisi lapang maupun jepit."Rumusnya adalah memberi dan terus memberi. Jangan pernah menunggu kaya baru mau bersedekah. Berapa pun nilainya, bawa dengan ikhlas. Allah yang akan mengurus dan melapangkan rezeki orang yang gemar berbagi," tuturnya.
Sepanjang pengalamannya berdakwah, Imam mengaku belum pernah menemui orang yang rajin bersedekah lalu hidupnya berakhir sengsara atau dipersulit oleh Tuhan. Karena itu, ia mendorong peserta yang hadir untuk menjadikan sedekah sebagai refleks atau kebiasaan harian.
Di akhir pesan, Imam mengingatkan bahwa kesalehan sosial tidak hanya urusan uang. Menahan amarah dan menjadi pribadi yang pemaaf adalah paket lengkap dari karakter orang bertakwa.
"Sedekah itu tidak harus langsung jutaan. Kalau mampunya dua ribu, lima ribu, atau sepuluh ribu, keluarkan saja dulu. Yang penting konsistensinya dilatih. Nanti kalau rezekinya ditambah oleh Allah, tentu porsinya bisa diperbesar," pungkasnya.***SO





