SURABAYA, 18 Maret 2023 – Di tengah badai ekonomi global dan panasnya dinamika geopolitik, Provinsi Jawa Timur kembali membuktikan taringnya sebagai magnet investasi utama di Indonesia. Sepanjang tahun 2025, Jatim sukses membukukan realisasi investasi sebesar Rp147,7 triliun , melampaui target yang ditetapkan dalam Rencana Strategis (Renstra).
Angka fantastis ini menunjukkan pertumbuhan positif dibandingkan capaian tahun 2024 yang berada di angka Rp147,3 triliun. Dengan raihan ini, Jawa Timur tercatat memenuhi 100,1% dari target yang dicanangkan.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jatim, Dyah Wahyu Ermawati , mengungkapkan bahwa kekuatan utama investasi Jatim saat ini bersumber dari dalam negeri.
Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN): Rp104,4 triliun (70,7%) – Tumbuh signifikan 13%, Penanaman Modal Asing (PMA): Rp43,3 triliun (29,3%).
“Karakteristik investasi kita didominasi industri menengah-tinggi. Meskipun PMA mengalami kontraksi akibat kondisi global, kuatnya peran investor domestik menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Dyah di Surabaya, Selasa (17/3/2026).
Bukan sekadar angka di atas kertas, derasnya modal yang masuk berdampak langsung ke dapur masyarakat. Sepanjang 2025, investasi di Jatim berhasil menyerap 347.328 tenaga kerja .
“Ini adalah serapan tenaga kerja tertinggi dalam lima tahun terakhir, meningkat 16,2% dibandingkan tahun sebelumnya,” tambah Dyah.
Sektor perdagangan dan reparasi menjadi penyerap tenaga kerja terbanyak, disusul oleh industri makanan, industri kulit/alas kaki, serta sektor perhotelan dan restoran.
Meski investor global ingin menunggu dan melihat akibat konflik di Timur Tengah, lima negara tetap menjadi kontributor PMA terbesar bagi Jatim, Singapura, Hong Kong, Amerika Serika, Jepang dan Tiongkok
Secara geografis, investasi asing masih terlihat di wilayah ring satu seperti Kabupaten Gresik, Pasuruan, Sidoarjo, dan Kota Surabaya , namun kini mulai merambah kuat ke arah barat menuju Kabupaten Ngawi .
Memasuki tahun 2026, katanya, Pemprov Jatim menargetkan mematok minimal sama dengan tahun lalu, yakni Rp147,7 triliun. Untuk mencapainya, Dyah menjelaskan dua kunci strategi: Penguatan Skala Kecil-Menengah: Melindungi dan melayani investor skala kecil yang dinilai lebih fleksibel dan cepat bergerak di masa krisis dan Inovasi "Saleha" (Sadar Legalitas Berusaha): Program jemput bola untuk mempermudah perizinan, termasuk pemberian Nomor Induk Berusaha (NIB) secara gratis bagi pelaku usaha mikro.
"Menjaga kepercayaan mereka adalah promosi yang paling manjur. Jika iklimnya kondusif dan masalah cepat selesai, investor lama akan bertahan dan yang baru akan datang dengan sendirinya," tutupnya optimis.***SO





