-->

Notification

×
Kunjungi Pengiklan

Perkuat Karakter Siswa, IPSI-Kodrat Jatim Dorong Pencak Silat Masuk Kurikulum Sekolah

Jumat, 06 Maret 2026 | Jumat, Maret 06, 2026 WIB Last Updated 2026-03-07T06:59:13Z


 

SURABAYA, 7 MARET 2026 - Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dan Keluarga Olahraga Tarung Derajat (Kodrat) Jawa Timur mendesak pemerintah untuk menjadikan olahraga beladiri tradisional menjadi kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat TK atau SD hingga SMA,

“Bela diri asli Indonesia ini seharusnya bisa menjadi kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat TK atau SD hingga SMA. Selain fisik, ini adalah soal membentuk karakter, kedisiplinan, dan menanamkan rasa cinta terhadap budaya bangsa,” kata Ketua Kodrat Jatim, Bambang Haryo Soekartono di Surabaya, Sabtu (7/3).

Bambang Haryo menegaskan, pengenalan bela diri tradisional tidak boleh ditunda hingga dewasa, melainkan harus dimulai sejak usia dini.

Menurut BHS, Pencak Silat dan Tarung Derajat bukan sekedar prestasi olahraga, melainkan investasi masa depan bagi para pelajar. Ia menyoroti bagaimana jalur prestasi olahraga ini dapat menjadi "tiket emas" bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan hingga membuka peluang karir di instansi negara.

“Prestasi di cabang ini bisa menjadi nilai tambah untuk masuk sekolah favorit, bahkan membuka jalan menjadi anggota TNI, Polri, maupun ASN,” imbuhnya optimis.

Gayung bersambut, Anggota Komisi E DPRD Jatim, Cahyo Harjo Prakoso, memberikan lampu hijau terhadap gagasan tersebut. Menurutnya, instrumen pendidikan adalah cara paling efektif untuk mencetak generasi yang kompetitif.

“Kami ingin mewujudkan masyarakat melalui fondasi pendidikan. Ini penting untuk menjaga Jawa Timur tetap kondusif melalui generasi muda yang memiliki karakter kuat dan toleransi tinggi,” kata Cahyo.

Cahyo menegaskan, DPRD Jatim akan segera mendorong koordinasi lintas sektor—mulai dari Dispora, KONI, hingga Dinas Pendidikan—agar wacana ini dikaji secara komprehensif untuk diterapkan di seluruh sekolah di Jawa Timur.

Menyadari besarnya skala program ini, Cahyo menekankan pentingnya kolaborasi Pentahelix yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media.

“Jika hanya mengandalkan APBD tentu tidak akan cukup. Diperlukan kolaborasi nyata dari berbagai pihak, termasuk dukungan tokoh seperti Pak Bambang Haryo, agar pembinaan olahraga dan kesejahteraan masyarakat Jatim berjalan optimal,” katanya.***SO


×
Berita Terbaru Update