Tag Terpopuler
› Seputar Jawa Timur
Siapkan 'Juru Bicara' Bangsa, Gubernur Khofifah Resmikan Fasilitas Baru SMA Negeri 2 Taruna Bhayangkara
-->
Tak hanya meresmikan fasilitas sekolah ketarunaan, momen ini juga menjadi payung besar bagi rehabilitasi dan revitalisasi sejumlah SMA, SMK, hingga SLB di wilayah Kabupaten Banyuwangi dan Situbondo. Agenda ini menjadi bukti nyata komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memeratakan kualitas pendidikan hingga ke ujung pulau timur Jawa.
Visi Mencetak Juru Bicara Keindonesiaan
Bagi Khofifah, momentum ini jauh melampaui sekedar seremoni fisik atau gunting pita. Ia menegaskan bahwa pengembangan fasilitas ini adalah investasi jangka panjang untuk mencetak “Generasi Emas” yang memiliki kedalaman akademik sekaligus karakter kebangsaan yang tangguh.
“SMA Taruna Bhayangkara ini berada di Komando Kepolisian Republik Indonesia, di bawah pelatihan langsung Bapak Kapolda Jawa Timur. Atensi luar biasa dari jajaran kepolisian menjadi yayasan kita untuk menyiapkan pemimpin masa depan,” ujar Khofifah dalam Berbagainya.
Ia menambahkan, para taruna bukan sekadar siswa, melainkan dipersiapkan untuk memikul tanggung jawab besar sebagai representasi identitas nasional.
“Kita sedang menggodok para siswa untuk menjadi juru bicara kebangsaan, juru bicara Keindonesiaan, dan juru bicara Kenusantaraan. Mereka adalah pilar yang akan menyambut Indonesia Emas dengan semangat persatuan yang kokoh,” tegasnya.
Selain fokus pada pendidikan ketarunaan, peresmian rehabilitasi sekolah di Banyuwangi dan Situbondo juga menekankan pada inklusivitas. Revitalisasi SLB (Sekolah Luar Biasa) yang juga diresmikan menunjukkan bahwa Pemprov Jatim memastikan hak pendidikan berkualitas dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali.
Kehadiran sarana prasarana yang lebih modern diharapkan mampu menunjang kreativitas siswa dan tenaga pendidik dalam berinovasi, sehingga Jawa Timur terus menjadi barometer pendidikan nasional yang inklusif dan berbasis karakter.
Ia menekankan bahwa capaian akademik tidak boleh berdiri sendiri. Di SMA Taruna Bhayangkara, akademik harus menyatu dengan pembentukan karakter. Disiplin, integritas, dan semangat kebangsaan ditanamkan melalui pola asuh yang sebagian besar dibimbing oleh unsur Polri.
“Tidak sekadar mencapai academic achievement, tapi juga bangunan karakter. Karakter kebangsaan, karakter Keindonesiaan itu harus menyatu pada capaian akademik mereka. Kita berharap napas kedisiplinan dan integritas kebangsaan bisa ditanamkan sekuat mungkin,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyampaikan apresiasi atas komitmen Gubernur terhadap sektor pendidikan, meski agenda kunjungan di Banyuwangi terbilang padat.
Menurut Aries, penguatan pendidikan berbasis ketarunaan merupakan model pendidikan yang diinisiasi langsung oleh Gubernur Jawa Timur dan kini mulai menunjukkan hasil konkret.
“SMA Taruna 2 Bhayangkara merupakan boarding school berbasis ketarunaan yang membutuhkan fasilitas untuk mendukung kurikulum nasional, pendidikan karakter dan disiplin, serta wawasan kebangsaan,” ujarnya.
Ia melaporkan bahwa sekolah yang berdiri sejak 2019, pada awal periode pertama kepemimpinan Gubernur Khofifah telah meluluskan empat angkatan. Saat ini terdapat 694 taruna aktif.
Untuk lulusan tahun 2025, sebanyak 225 taruna telah menyelesaikan pendidikan. Dari jumlah tersebut, 150 taruna diterima di berbagai perguruan tinggi negeri, sekolah kedinasan, TNI/Polri, jalur Bintara, hingga perguruan tinggi luar negeri. Sisanya masih mengikuti bimbingan lanjutan untuk masuk Akademi Kepolisian dan akademi TNI.
Sementara itu, untuk tahun ajaran baru mendatang, sebanyak 247 calon taruna telah dinyatakan lolos seleksi dan akan memulai pendidikan pada Juli nanti.
“Ini menunjukkan sekolah ketarunaan tidak hanya kuat dalam karakter tetapi juga unggul secara akademik,” imbuhnya.
Pengembangan sarana prasarana menjadi bagian penting dalam menopang sistem pendidikan tersebut. Total dukungan pengembangan di wilayah Banyuwangi dan Situbondo, termasuk khusus untuk SMA Taruna Bhayangkara, mencapai Rp2,610 miliar yang berasal dari komite sekolah.
Fasilitas yang diresmikan meliputi Aula Cakra Buana, Brakasena Gym, Griya Belajar Taruna, rumah ibadah, ruang olahraga tenis meja, barbershop putra dan putri, hingga studio musik.
Menurut Aries, kontribusi komite sekolah mencerminkan dukungan luar biasa dari orang tua terhadap kemajuan pendidikan anak-anak mereka. Fasilitas ini diharapkan menunjang penguatan fisik, mental, spiritual, dan akademik para taruna secara seimbang.
Tak hanya fokus pada sekolah ketarunaan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga meresmikan rehabilitasi dan revitalisasi sekolah di dua kabupaten tersebut.
Di Kabupaten Banyuwangi, terdapat 28 lembaga pendidikan dengan total anggaran Rp30 miliar. Sementara di Kabupaten Situbondo, revitalisasi menyasar 9 lembaga dengan total anggaran Rp6,2 miliar. Intervensi mencakup SMA, SMK, dan SLB sebagai wujud pemerataan dan keadilan layanan pendidikan.
Program ini juga menyentuh daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), memperkuat komitmen pemerataan pembangunan pendidikan di seluruh penjuru Jawa Timur.
Dalam kesempatan tersebut, Aries turut melaporkan implementasi program SIKAP (Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan). Program ini menjadi bagian dari pendidikan karakter berbasis kemandirian dan produktivitas, sekaligus mendukung agenda ketahanan pangan nasional.
Di Banyuwangi, dari 180 SMA, SMK, dan SLB, sebanyak 104 sekolah mengikuti program SIKAP. Sekolah yang belum berpartisipasi umumnya terkendala ketersediaan lahan. Sekolah yang memiliki lahan memadai, termasuk SMA Negeri 2 Taruna Bhayangkara, telah mengintegrasikan program ini dalam kegiatan pendidikan.
Peresmian ini menjadi penanda bahwa pembangunan pendidikan di Jawa Timur tidak berhenti pada pembangunan fisik, melainkan juga pada penguatan nilai, karakter, dan daya saing generasi muda.***SO