-->

Notification

×
Kunjungi Pengiklan

Gubernur Khofifah Apresiasi 13 Sanggar Pelestari Topeng Malangan: Tegaskan Budaya Harus Lestari, Seniman Berdaya, Generasi Muda Bangga

Sabtu, 22 Agustus 2026 | Sabtu, Agustus 22, 2026 WIB Last Updated 2026-08-23T01:18:09Z


 


MALANG, 23 AGUSTUS 2026 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memastikan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk menjaga keberlanjutan kesenian tradisional sekaligus memastikan regenerasi para pelaku budaya. Salah satunya melalui penguatan pelestarian Topeng Malangan yang menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Malang dan Jawa Timur.


Hal itu disampaikan Gubernur Khofifah saat memberikan apresiasi kepada para pelaku dan pelestari kesenian asli Jawa Timur dalam acara Apresiasi Pelestari Kesenian Asli Jawa Timur di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Kota Malang, Kamis (20/8).


Dalam kesempatan ini, Gubernur Khofifah memberikan dukungan kepada 13 sanggar tari Topeng Malangan sebagai bentuk apresiasi sekaligus upaya memperkuat keberlangsungan kesenian tradisional. Dukungan diberikan sesuai kebutuhan masing-masing sanggar. Sanggar Tari Setyotomo menerima satu set gamelan, sementara 12 sanggar lainnya masing-masing mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp5 juta.


Khofifah mengatakan, apresiasi ini merupakan bentuk penghargaan Pemprov Jatim kepada para sesepuh, maestro, seniman, budayawan, sanggar, komunitas, serta seluruh pihak yang selama ini konsisten menjaga, mengembangkan, dan mewariskan Topeng Malangan kepada generasi berikutnya.


“Terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pelestari Topeng Malangan yang terus menjaga dan mewariskan kesenian ini. Apa yang panjenengan lakukan ini adalah menjaga identitas dan warisan budaya Jawa Timur untuk generasi yang akan datang,” ujarnya.


Khofifah menambahkan, Topeng Malangan bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan bagian dari warisan pengetahuan dan identitas masyarakat yang memiliki keterkaitan erat dengan Cerita Panji. Di dalamnya terdapat sejarah, simbol, karakter, filosofi, nilai kehidupan, hingga kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.


“Topeng Malangan bukan sekadar topeng, gerak tari, iringan musik, maupun lakon pertunjukan. Di dalamnya tersimpan sejarah, pengetahuan, simbol, karakter, nilai kehidupan, serta kearifan masyarakat Malang yang diwariskan lintas generasi,” katanya


Ia pun menilai pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada upaya mempertahankan bentuk pertunjukan. Pengetahuan, keterampilan, nilai, filosofi, serta kemampuan berkesenian yang menjadi bagian dari Topeng Malangan harus terus ditransfer kepada generasi muda.


Menurut Khofifah, regenerasi menjadi kunci utama agar kesenian tradisional tidak hanya tetap tampil di atas panggung, tetapi juga memiliki penerus yang mampu menjaga sekaligus mengembangkannya sesuai perkembangan zaman.


“Kuncinya adalah regenerasi. Jangan sampai sebuah kesenian memiliki panggung, tetapi kehilangan penerus. Keberhasilan pelestarian budaya tidak hanya diukur dari banyaknya pertunjukan, tetapi juga dari lahirnya generasi baru yang mampu meneruskannya,” katanya.


Khofifah mengapresiasi berbagai upaya yang telah dilakukan para seniman dan pemerintah, termasuk melalui Program Seni Waris yang memberikan ruang bagi Topeng Malangan untuk terus dipertunjukkan, dipelajari, dan dikenalkan kepada masyarakat secara lebih luas.


Khusus bantuan seperangkat gamelan kepada Sanggar Tari Setyotomo, Khofifah berharap fasilitas tersebut dapat menjadi sarana pembelajaran sekaligus media pewarisan budaya bagi generasi muda.


“Semoga gamelan ini tidak hanya menjadi alat musik, tetapi menjadi bagian dari proses pewarisan. Dari sini anak-anak muda belajar, berlatih, berkarya, dan pada akhirnya menjadi generasi yang meneruskan Topeng Malangan,” tuturnya.


Khofifah melanjutkan, penguatan seni dan budaya harus dilakukan melalui pembangunan ekosistem yang lebih luas. Para seniman dan pelaku budaya perlu mendapatkan ruang untuk berkarya, berkembang, sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari aktivitas kebudayaan yang mereka jalankan.


Khofifah juga menekankan, keberlanjutan kebudayaan membutuhkan keseimbangan antara pelestarian, regenerasi, penguatan kapasitas pelaku budaya, serta pembukaan akses ekonomi. Karena itu, pengembangan seni dan budaya perlu dihubungkan dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif agar mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.


“Budayanya lestari, senimannya berdaya, generasi mudanya bangga, ekonomi kreatifnya tumbuh, dan masyarakatnya memperoleh manfaat,” katanya.


Dalam rangka memperkuat ekosistem, Gubernur Khofifah juga memberikan bantuan modal sebesar Rp5 juta kepada Paguyuban Pedagang Kaki Lima (PKL) Taman Krida Budaya Malang. Bantuan tersebut diharapkan turut mendukung keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat yang tumbuh di sekitar ruang kebudayaan.


Keberadaan pelaku UMKM dan PKL di kawasan Taman Krida Budaya dapat menjadi bagian dari ekosistem yang saling menguatkan dengan kegiatan seni dan budaya. Ketika ruang kebudayaan semakin hidup, aktivitas ekonomi masyarakat di sekitarnya juga berpotensi ikut tumbuh.


Gubernur Khofifah menegaskan, penguatan kebudayaan harus melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah, seniman, komunitas, lembaga pendidikan, pelaku usaha, hingga masyarakat. Kolaborasi tersebut diperlukan agar kesenian tradisional tidak hanya bertahan, tetapi mampu berkembang dan tetap relevan bagi generasi muda.


Ia pun berharap apresiasi yang diberikan kepada para sanggar dan pelaku budaya menjadi penyemangat untuk terus berkarya serta memperluas proses pewarisan pengetahuan dan keterampilan seni kepada generasi berikutnya.


“Teruslah berkarya dan mewariskan ilmu kepada generasi berikutnya. Sebab apa yang panjenengan jaga hari ini adalah warisan bagi anak cucu Jawa Timur di masa mendatang,” pesannya.


Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Evy Afianasari mengatakan, perkembangan ekosistem Topeng Malangan menunjukkan tren positif. Pada 2025 tercatat terdapat 11 sanggar tari khusus Topeng Malangan. Jumlah tersebut meningkat menjadi 15 sanggar pada 2026.


Pertumbuhan juga terlihat dari jumlah seniman aktif. Pada 2025 tercatat sebanyak 369 seniman aktif, sedangkan hingga Agustus 2026 jumlahnya telah mencapai 589 seniman.


“Pertumbuhan jumlah sanggar dan seniman aktif menunjukkan bahwa ekosistem Topeng Malangan terus berkembang. Ini menjadi modal penting untuk memperkuat regenerasi sekaligus memastikan kesenian ini tetap hidup dan dekat dengan generasi muda,” katanya.


Capaian tersebut, lanjutnya, menjadi dorongan untuk terus memperluas ruang pertunjukan, pembinaan, pendidikan, serta kolaborasi agar semakin banyak generasi muda yang mengenal, mencintai, dan terlibat langsung dalam pelestarian Topeng Malangan sebagai salah satu kekayaan budaya Jawa Timur.****

×
Berita Terbaru Update