-->

Notification

×
Kunjungi Pengiklan

400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari, Menggali Kembali Warisan Pemikiran Ulama Nusantara untuk Masa Kini

Rabu, 16 September 2026 | Rabu, September 16, 2026 WIB Last Updated 2026-09-16T13:57:38Z


 

MOJOKERTO – 16 SEPTEMBER 2026 - Nama Syekh Yusuf Al-Makassari kembali menjadi perbincangan dalam momentum 400 tahun kelahirannya. Sosok ulama asal Tallo, Sulawesi Selatan itu tidak hanya dikenal sebagai tokoh agama dan pejuang yang menentang kolonialisme, tetapi juga sebagai pemikir yang meninggalkan jejak panjang dalam bidang keilmuan, tasawuf, serta nilai-nilai kemanusiaan.

Warisan pemikiran Syekh Yusuf dinilai masih memiliki relevansi dengan berbagai persoalan masa kini, terutama dalam membangun kehidupan yang menghargai keberagaman, melawan ketidakadilan, dan memperkuat hubungan antarmanusia.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Temu Narasi bertajuk “Refleksi 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari: Perkokoh Kebinekaan, Menginspirasi Zaman” yang digelar Direktorat Promosi Kebudayaan di Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, Mojokerto, Rabu (16/9/2026).

Dalam forum tersebut, K.H. Ahmad Kholili Kholil membahas bagaimana pemikiran Syekh Yusuf tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai tasawuf yang menempatkan penolakan terhadap kezaliman sebagai prinsip utama.

Menurut Kholili, sikap Syekh Yusuf dalam menghadapi kolonialisme bukan berangkat dari kebencian terhadap kelompok tertentu, melainkan sebagai bentuk perlawanan terhadap tindakan yang merampas hak dan menimbulkan penderitaan.

“Bertasawuf itu adalah anti kezaliman, apa pun kezaliman itu. Bukan spesifik anti kolonial atau anti orang asing,” ujar Kholili.

Ia menjelaskan, Syekh Yusuf merupakan figur yang menggabungkan nilai keagamaan dengan perjuangan sosial. Selain berdakwah, ia juga membangun jaringan keilmuan yang luas dan dikenal memiliki prinsip yang kuat dalam memperjuangkan kebenaran.

Jejak pemikirannya bahkan tersebar hingga berbagai belahan dunia. Menurut Kholili, pengaruh Syekh Yusuf dapat ditemukan mulai dari kawasan Nusantara, Mekkah, Madinah, Teheran, hingga sejumlah lembaga pendidikan dunia.

“Peninggalan Syekh Yusuf terbentang mulai dari Jerman, Mekkah, Madinah, Teheran, bahkan Princeton University di Amerika, juga di sepanjang Kepulauan Nusantara. Itu semua dicapai melalui pribadi yang berintegritas dan berprinsip,” katanya.

Perjalanan Panjang Ulama Nusantara hingga Cape Town

Syekh Yusuf Al-Makassari lahir di Tallo, Sulawesi Selatan, pada 3 Juli 1626. Sejak muda, ia menempuh perjalanan intelektual ke berbagai pusat keilmuan Islam, termasuk Aceh, Mekkah, Yaman, hingga Damaskus.

Sekembalinya ke Nusantara, Syekh Yusuf berkiprah di Banten sebagai ulama, pendidik agama, dan mufti. Ia juga terlibat dalam perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa menghadapi kolonialisme Belanda.

Perjuangannya membuat pemerintah kolonial menangkap dan mengasingkannya. Pada 1684, Syekh Yusuf dibuang ke Ceylon atau Sri Lanka sebelum kemudian dipindahkan ke Cape Town, Afrika Selatan.

Namun, pengasingan tidak menghentikan aktivitas dakwahnya. Di tempat baru tersebut, Syekh Yusuf tetap mengajarkan nilai-nilai Islam dan membangun pengaruh keagamaan hingga wafat pada 1699.

Pengaruhnya terus berkembang lintas wilayah. Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 1995, sementara kiprahnya juga mendapat pengakuan di Afrika Selatan. Peringatan 400 tahun kelahirannya turut masuk dalam agenda UNESCO Anniversary 2026.

Kholili menyebut Syekh Yusuf meninggalkan puluhan karya yang memuat pemikiran keagamaan dan ajaran tasawuf. Menurutnya, momentum 400 tahun menjadi kesempatan untuk kembali mengkaji warisan tersebut.

Terkait manuskrip Syekh Yusuf yang saat ini berada di berbagai negara, Kholili menilai pendekatan digitalisasi dapat menjadi solusi untuk menjaga sekaligus memperluas akses terhadap karya-karya tersebut.

“Kalau saya pribadi sebagai pengamat naskah, jangan, tidak perlu. Karena lebih terjaga di sana. Cukup dikaji dan dicek versi digitalnya,” ujarnya.

Mendorong Syekh Yusuf sebagai Diplomasi Budaya Indonesia

Sementara itu, Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban, M.Hum., melihat Syekh Yusuf sebagai salah satu tokoh yang memiliki potensi besar dalam diplomasi kebudayaan Indonesia.

Ia menilai Indonesia memiliki banyak tokoh intelektual masa lalu yang pemikirannya telah dikenal di berbagai pusat keilmuan dunia. Menurutnya, kekayaan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkenalkan identitas budaya Indonesia secara lebih luas.

Ginanjar mencontohkan sejumlah negara yang menjadikan tokoh intelektualnya sebagai simbol kebudayaan global, seperti Turki dengan Yunus Emre dan Rumi, China dengan Confucius Institute, serta India dengan Maulana Azad.

“Indonesia ini punya barang, punya modal, tetapi belum mengemasnya untuk menjadi tools of diplomacy kebudayaan kita,” katanya.

Selain Syekh Yusuf, ia menyebut sejumlah ulama Nusantara seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Abdus Samad Al-Palimbani, hingga Nawawi Al-Bantani sebagai bagian dari kekayaan intelektual Indonesia yang memiliki nilai penting untuk diperkenalkan kepada dunia.

Menurut Ginanjar, pengenalan tokoh-tokoh tersebut tidak cukup hanya melalui kajian akademik. Perlu ada pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda melalui berbagai media kreatif.

“Perlu dengan logika anak-anak muda zaman sekarang. Misalkan dibuat film, dokumenter, video pendek, infografis, komik, dan media-media yang sesuai kebutuhan zamannya,” jelasnya.

Ia juga melihat peran kreator digital dapat membantu memperkenalkan kembali gagasan dan nilai yang diwariskan Syekh Yusuf kepada masyarakat luas.

Mengaktualisasikan Nilai Insan Kamil

Salah satu ajaran Syekh Yusuf yang dinilai masih relevan hingga saat ini adalah konsep Insan Kamil, yaitu perjalanan manusia menuju kesempurnaan spiritual melalui proses penyucian diri.

Konsep tersebut berkaitan dengan upaya manusia mengendalikan berbagai sifat negatif, seperti keserakahan, iri hati, kesombongan, dan keinginan berlebihan terhadap pengakuan sosial.

“Intinya ajaran yang bagaimana menghantarkan seorang manusia pada tingkat kesempurnaan rohaninya, sehingga dia bisa mencapai kebahagiaan yang sejati, bukan kebahagiaan yang semu,” ujar Ginanjar.

Temu Narasi 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari menjadi bagian dari rangkaian promosi ketokohan Syekh Yusuf yang berlangsung di enam wilayah Indonesia pada September hingga Oktober 2026.

Selain Jawa Timur, kegiatan serupa akan digelar di Aceh, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, warisan pemikiran Syekh Yusuf kembali dihadirkan sebagai bagian dari sejarah Indonesia yang tidak hanya dikenang, tetapi juga dapat menjadi inspirasi dalam menghadapi tantangan masyarakat modern.****


×
Berita Terbaru Update