KOTA BATU, 22 SEPTEMBER 2026 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong pengembangan peternakan sapi perah di Jawa Timur tidak berhenti pada peningkatan populasi ternak, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat produktivitas, kualitas bibit, ketersediaan pakan, hingga nilai ekonomi yang dihasilkan.
Hal itu disampaikan Gubernur Khofifah saat meninjau langsung pengelolaan sapi perah di Unit Pelaksana Teknis Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (UPT PT dan HMT) Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Jalan Raya Tlekung, Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Minggu lalu.
Dalam kunjungannya, Gubernur Khofifah melihat berbagai aktivitas peternakan, mulai dari pembibitan, pemuliabiakan, budidaya sapi perah, produksi susu, hingga pengembangan hijauan makanan ternak sebagai sumber utama pakan.
Khofifah mengatakan, pengelolaan UPT PT dan HMT Batu telah berjalan dengan baik dan menunjukkan produktivitas yang tinggi. Keberadaan UPT tersebut dinilai memiliki fungsi strategis karena tidak hanya menjadi pusat pembibitan dan pengembangan peternakan, tetapi juga menghasilkan produk yang memberikan nilai ekonomi bagi daerah. Selain itu UPT ini juga menjadi tempat praktek siswa dan mahasiswa serta sarana penelitian bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Peternakan dari bernagai perguruan tinggi di Indonesia.
"Saya merasa bahwa proses yang dilakukan cukup bagus. Kandangnya bersih dan produktivitasnya juga tinggi. Oleh karena itu, UPT ini juga sudah memberikan PAD (Pendapatan Asli Daerah) kepada Pemprov Jawa Timur," ujarnya.
Saat ini, UPT PT dan HMT Batu mengelola sekitar 130 ekor sapi yang terdiri dari 72 ekor sapi dewasa, 28 ekor sapi dara, dan 30 ekor pedet. Dari 72 ekor sapi dewasa, sebanyak 40 ekor merupakan sapi laktasi atau sapi yang sedang menghasilkan susu. Sementara 32 ekor lainnya merupakan sapi nonlaktasi.
Produktivitas sapi laktasi di UPT sendiri berada pada kisaran 25–30 liter susu per ekor per hari. Dengan 40 ekor sapi laktasi, produksi susu yang dihasilkan mencapai sekitar 600 liter per hari. Produksi tersebut kemudian dipasarkan dan memberikan kontribusi terhadap PAD Provinsi Jawa Timur sekitar Rp 1 miliar per tahun. Kontribusi PAD tersebut juga berasal dari Agrowisata ternak, benih rumput dan produk hilirisasi susu berupa keju, susu pasturisasi dan stik keju.
Bagi Khofifah, capaian ini menunjukkan bahwa pengelolaan aset dan fasilitas peternakan milik Pemprov Jatim dapat dikembangkan sebagai bagian dari penguatan sektor peternakan sekaligus memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Ia pun berharap kapasitas populasi sapi perah di UPT PT dan HMT Batu dapat terus ditingkatkan. Pengembangan populasi tersebut diharapkan berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas dan kualitas bibit.
"Mudah-mudahan kita bisa meluaskan dari 130 menjadi 200 ekor yang ada di UPT Kota Batu ini karena areanya cukup luas," harapnya.
Selain itu, Khofifah menegaskan, pengembangan peternakan sapi perah juga harus ditopang dengan ketersediaan pakan yang memadai. Untuk itu, keberadaan lahan hijauan makanan ternak menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga keberlanjutan budidaya sapi perah.rumput gajah yang ditanam do area ini cukup luas.
Terlebih, UPT PT dan HMT Batu memiliki lahan sekitar 13 hektare, dengan sekitar 9,5 hektare di antaranya telah dimanfaatkan. Dari luasan tersebut, sekitar 2 hektare digunakan untuk bangunan, sedangkan sekitar 7 hektare dimanfaatkan sebagai lahan hijauan makanan ternak.
Salah satu hijauan yang dikembangkan adalah rumput gajah. Selain dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak yang dikelola UPT, lahan tersebut juga mendukung penyediaan bibit atau stek rumput gajah untuk pengembangan hijauan makanan ternak.
Kebutuhan hijauan makanan ternak bagi sapi yang dikelola UPT mencapai sekitar 1.300 ton per tahun. Dengan demikian, pengelolaan lahan hijauan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga produktivitas ternak.
Secara kelembagaan, UPT PT dan HMT melaksanakan sebagian tugas teknis Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur di bidang pembibitan, pemuliabiakan, budidaya ternak, serta pengembangan hijauan makanan ternak bagi masyarakat.
Fungsi tersebut mencakup perencanaan program dan kegiatan, pelaksanaan pembibitan dan pemuliabiakan ternak, budidaya ternak dan hijauan makanan ternak, penyediaan pakan, hingga pendistribusian bibit ternak dan bibit hijauan makanan ternak.
Untuk mendukung seluruh aktivitas tersebut, kawasan UPT PT dan HMT Batu dilengkapi sejumlah fasilitas, di antaranya gedung kantor, laboratorium susu, kamar susu, cooling room, serta kandang sapi perah dengan kapasitas sekitar 100 ekor sapi dewasa.
Khofifah menilai fungsi tersebut menjadikan UPT PT dan HMT Batu bukan sekadar tempat pemeliharaan ternak, tetapi juga dapat menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan praktik peternakan yang dapat diterapkan lebih luas oleh masyarakat.
"Jadi kita berharap bahwa pengembangan peternakan, khususnya sapi perah, bisa terus kita tingkatkan. Tidak hanya dari sisi populasi, tetapi juga produktivitas dan kualitas bibit serta pakan ternaknya," pungkasnya.***





